Pada tanggal 17 April 2020 kemarin, Gunung Semeru erupsi dan melontarkan awan panas hingga 2 km. Sepekan sebelumnya, Anak Krakatau erupsi.

Masih ingatkah anda dengan info viral dentuman keras berkali-kali yang terdengar di seputaran Jabodetabek dan Sleman pekan lalu, yang sempat dikira akibat atau dampak erupsi Anak Krakatau, tapi kemudian dibantah berbagai lembaga pemerintah? Sampai sekarang penyebab fenomena alam itu belum ketemu jawabannya, selain spekulasi soal aktivitas perut bumi di bawah Nusantara dan teori “skyquake”.

Ketika mayoritas penduduk negara ini sedang berdoa agar pandemi corona cepat enyah sebelum Lebaran, aktivitas vulkanik di bawah lapisan bumi Nusantara sedang meningkat drastis. Terpantau 21 gunung berapi di seluruh Indonesia selama dua pekan terakhir aktif bersamaan. Erupsi Anak Krakatau (kalau ini dihitung jadi 22 gunung) seminggu lalu baru permulaan.

Terbukti, hari Jumat tanggal 14 April 2020, Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, mengalami erupsi pukul 6 pagi waktu setempat. Pada puncak tertinggi Pulau Jawa itu mengeluarkan material vulkanik dan awan panas hingga pada 2 kilometer dari kawasan puncak.

“Terjadi awan panas guguran sejauh 2.000 meter, pusat guguran sekitar 1.000 meter dari kawah ke arah Besuk,” menurut keterangan Kasbani, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lewat keterangan tertulis.

Gunung, Semeru sudah mengalami gempa, letusan, dan guguran lava berulang kali sejak dari tanggal 1 April lalu. Meski pun begitu, dari penilaian PVMBG, status Semeru untuk sementara tetap berada di Level II, biasa dijuluki Waspada. Belum perlu dilakukan evakuasi penduduk.

Alasan Kasbani, karena untuk capaian lava, hujan abu, maupun lahar dingin dari Semeru kemungkinan menjangkau area 4 kilometer dari kawah. Material yang berasal dari perut bumi yang bisa memicu erupsi lebih besar juga tak tampak dari pengamatan kawah. “Tidak terdeteksi adanya peningkatan ancaman potensi bahaya,” tandasnya.

Mengacu informasi dari situs magma.esdm.go.id, yang dikelola Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, bukan cuma Semeru yang sedang dalam status ‘Waspada’ sepekan terakhir. Setidaknya ada 18 gunung berapi aktif lainnya yang juga berstatus Waspada. Sementara tiga gunung lain statusnya naik ke level III alias ‘Siaga’.

Status seperti ini bermakna sudah ada penampakan visual tumpukan material dari gunung vulkanik pada bagian bibir kawah. Letusan besar bisa terjadi dalam kurun dua pekan. Ketiga gunung berstatus siaga itu Gunung Agung di Bali, Karangetang di Sulawesi Utara, serta Sinabung di Sumatera Utara.

Satu-satunya gunung yang statusnya naik ke level tertinggi, yang mana bisa disebut atau alias ‘Awas’ adalah Anak Krakatau. Gunung tersebut berada di perairan Selat Sunda, sehingga tak perlu ada evakuasi terhadap penduduk lereng. Akan tetapi terhadap risiko tsunami masih mengintai pesisir Banten dan Lampung, apabila skala letusannya ternyata cukup besar.

Seluruh gunung yang menggeliat aktivitas vulkaniknya tersebut berada dalam rangkaian cincin api atau bisa disebut dengan (ring of fire) Nusantara. Cincin Api, alias ring of fire, adalah istilah dari ilmuwan geologi untuk menjelaskan situasi kawasan sekitar Samudra Pasifik, yang menjadi lokasi tumbukan tiga lempeng benua.

Indonesia termasuk dalam kawasan Cincin Api, karena menjadi titik pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, sekaligus juga dengan Pasifik.

Berikut ini merupakan data sebanyak 21 gunung yang berstatus level II dan III di seluruh Indonesia :

  1. Gunung Agung (Bali)
  2. Karangetang (Sulawesi Utara)
  3. Sinabung (Sumatera Utara)
  4. Anak Krakatau (Lampung)
  5. Banda Api (Maluku)
  6. Bromo (Jawa Timur)
  7. Dukono (Maluku Utara)
  8. Gamalama (Maluku Utara)
  9. Gamkonora (Maluku Utara)
  10. Ibu (Maluku Utara)
  11. Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)
  12. Kerinci (Jambi dan Sumatra Barat)
  13. Lokon (Sulawesi Utara)
  14. Marapi (Sumatra Barat)
  15. Merapi (DI Yogyakarta dan Jawa Tengah)
  16. Rinjani (Nusa Tenggara Barat)
  17. Rokatenda (Nusa Tenggara Timur)
  18. Sangeangapi (Nusa Tenggara Barat)
  19. Semeru (Jawa Timur)
  20. Slamet (Jawa Tengah)
  21. Soputan (Sulawesi Utara)

BACA ARTIKEL LAINNYA